Kamis, 20 Mei 2010

Asuhan Kebidanan pada Bayi Baru Lahir

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pada masa sekarang ini Indonesia masih menghadapi berbagai kendala dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM), khususnya dalam bidang kesehatan. Kendala tersebut tampak antara lain dari masih tingginya kelahiran dan kematian neonatal. Setiap tahun diperkirakan ada sejumlah 4.608.000 bayi dilahirkan dan 100.454 diantaranya ternyata meninggal dunia pada masa neonatal atau sebelum usia 1 bulan. Dengan kata lain setiap 5 menit satu bayi meninggal di indonesia oleh berbagai sebab. (Buku Panduan Manajemen Masalah Bayi Baru Lahir, 2003:41)
Periode neonatal merupakan suatu periode yang kritis nantinya akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan bayi bahkan sampai dewasa. Kurang baiknya penanganan bayi baru lahir yang sehat akan menyebabkan kelainan-kelainan yang dapat mengakibatkan cacat seumur hidup bahkan menyebabkan kematian. (Mochtar , Rustam, 1998:119)
Para petugas kesehatan khususnya bagi penolong persalinan harus lebih memperhatikan bahwa bayi baru lahir adalah suatu individu yang utuh. Menolong kelahiran bayi terampil dan memberikan Asuhan yang seksama akan membantu bayi melalui proses adaptasi dengan baik sehingga akan menjadi bayi yang sehat sebagai curahan harapan orang tua, bangsa dan negara.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Diharapkan mahasiswa Akademi Kebidanan Griya Husada mampu memahami tentang keadaan dan masalah-masalah yang terjadi pada bayi baru lahir melalui pendekatan manajemen kebidanan menurut Varney.
1.2.2 Tujuan Khusus
Setelah dilakukan Asuhan Kebidanan mahasiswa Akademi Kebidanan Griya Husada diharapkan mampu melakukan :
1. Pengkajian pada bayi baru lahir.
2. Mengidentifikasi masalah.
3. Mengantisipasi kebutuhan segera.
4. Mengidentifikasi kebutuhan segera.
5. Merencanakan Asuhan Kebidanan.
6. Melaksanakan.
7. Mengevaluasi sebagai hasil dilakukannya tindakan.

1.3 Metode Penulisan
1.3.1 Studi Kepustakaan
Dalam penyusunan Asuhan Kebidanan sebagai pedoman maka penulis mempelajari literatur-literatur yang berhubungan dengan bayi baru lahir dan permasalahan-permasalahan yang mungkin dapat terjadi.
1.3.2 Praktek Langsung
Suatu tindakan kebidanan untuk memberikan Asuhan Kebidanan dan memperoleh data mengenai bayi baru lahir, maka penulis melaksanakan Asuhan Kebidanan sampai dengan memantau keadaan bayi apakah masalah dapat diatasi atau setidaknya masalah yang dirasakan berkurang.

1.4 Sistematika Penulisan
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
1.3 Metode Penulisan
1.4 Sistematika Penulisan
BAB 2 LANDASAN TEORI
2.1 Bayi Baru Lahir
2.2 Penanganan Bayi Baru Lahir
A. Membersihkan Jalan Nafas
B. Memotong dan Merawat Tali Pusat
C. Mempertahankan Suhu Tubuh Bayi
D. Mencegah Infeksi
E. Yang Perlu Diperhatikan pada Bayi Baru Lahir
F. Kontak Dini dengan Ibu
G. Perawatan Mata
H. Perawatan Lain-lain
2.3 Konsep Asuhan Kebidanan pada Bayi Baru Lahir
BAB 3 TINJAUAN KASUS
3.1 Pengkajian
3.2 Identifikasi Masalah
3.3 Antisipasi Masalah Potensial
3.4 Identifikasi Kebutuhan Segera
3.5 Pengembangan Rencana
3.6 Implementasi
3.7 Evaluasi
BAB 4 PEMBAHASAN
BAB 5 PENUTUP
5.1 Simpulan
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA


BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Bayi Baru Lahir
Bayi baru lahir disebut juga Neonatal yang merupakan periode paling kritis. Pencegahan asfiksia mempertahankan suhu tubuh bayi terutama pada bayi baru lahir dengan berat badan rendah.
Neonatus pada minggu-minggu pertama sangat dipengaruhi oleh kondisi ibu pada waktu hamil dan melahirkan. Manajemen yang baik pada waktu masih dalam kandungan selama persalinan segera sesudah dilahirkan dan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya akan menghasilkan bayi yang sehat.

2.2 Penanganan Bayi Baru Lahir
Tujuan utama perawatan bayi segera sesudah lahir, ialah :
 Membersihkan jalan nafas.
 Memotong dan merawat tali pusat.
 Mempertahankan suhu tubuh bayi.
 Identifikasi.
 Pencegahan infeksi.
Pembersihan jalan nafas, perawatan tali pusat, perawatan maya dan identifikasi adalah rutin dilakukan, kecuali bayi dalam keadaan kritis.
A. Membersihkan Jalan Nafas
Bayi normal akan menangis spontan segera setelah lahir. Apabila bayi tidak langsung menangis, penolong segera membersihkan jalan nafas dengan cara sebagai berikut :
- Letakkan bayi pada posisi terlentang di tempat yang keras dan hangat.
- Gulung sepotong kain dan letakkan di bawah bahu sehingga leher bayi lebih lurus dan kepala tidak menekuk. Posisi kepala diatur lurus sedikit tengadah ke belakang.
- Bersihkan hidung, rongga mulut dan tenggorokan bayi dengan jari tangan yang dibungkus kasa steril.
- Tepuk kedua telapak kaki bayi sebanyak 2-3 kali atau gosok kulit bayi dengan kain kering dan kasar. Dengan rangsangan ini biasanya bayi segera menangis.
 Kekurangan zat asam pada bayi baru lahir dapat menyebabkan kerusakan otak. Sangat penting membersihkan jalan nafas, sehingga upaya bayi bernafas tidak akan menyebabkan aspirasi lendir (masuknya lendir ke paru-paru).
 Alat penghisap lendir mulut (Delee) atau alat penghisap lainnya yang steril, tabung oksigen dengan selangnya harus siap di tempat.
 Segera lakukan usaha menghisap mulut dan hidung.
 Petugas harus memantau dan mencatat usaha nafas yang pertama.
 Warna kulit, adanya cairan atau mekonium dalam hidung atau mulut harus diperhatikan.
B. Memotong dan Merawat Tali Pusat
Tali pusat dipotong sebelum atau sesudah plasenta lahir tidak begitu menentukan dan tidak akan mempengaruhi bayi, kecuali pada bayi kurang bulan. Apabila bayi lahir tidak menangis, maka tali pusat segera dipotong untuk memudahkan melakukan tindakan resusitasi pada bayi. Tali pusat dipotong 5 cm dari dinding perut bayi dengan gunting steril dan diikat dengan pengikat steril. Apabila masih terjadi perdarahan dapat dibuat ikatan baru. Luka tali pusat dibersihkan dan dirawat dengan alkohol 70 % atau povidon iodine 10 % serta dibalut kasa steril. Kasa tersebut diganti setiap hari dan atau setiap kali basah / kotor. Sebelum memotong tali pusat, dipastikan bahwa tali pusat telah diklem dengan baik untuk mencegah terjadinya perdarahan.
C. Mempertahankan Suhu Tubuh Bayi
Pada waktu baru lahir, bayi belum mampu mengatur tetap suhu badannya dan membutuhkan pengaturan dari luar untuk membuatnya tetap hangat. Bayi baru lahir harus dibungkus hangat. Suhu tubuh bayi merupakan tolok ukur kebutuhan akan tempat tidur yang hangat sampai suhu tubuhnya sudah stabil. Suhu bayi harus dicatat.
D. Mencegah Infeksi
Cara mencegah infeksi bayi baru lahir :
- Mencuci tangan sebelum dan sesudah memegang bayi.
- Mempertahankan teknik septik dan aseptik dalam merawat bayi.
- Mengganti bungkus tali pusat bayi dimandikan.
E. Yang Perlu Diperhatikan pada Bayi Baru Lahir
- Suhu badan dan lingkungan.
- Tanda-tanda vital.
- Berat badan.
- Mandi dan perawatan kulit.
- Pakaian.
- Perawatan tali pusat.

Penilaian Bayi untuk Tanda-tanda Kegawatan
Bayi baru lahir dinyatakan sakit apabila :
- Sesak nafas.
- Frekuensi nafas 60 x/menit.
- Panas suhu badan yang rendah.
- Kurang aktif.
- Berat badan rendah (1.500 – 2.500 gram) dengan kesulitan minum.
F. Kontak Dini dengan Ibu
 Berikan bayi kepada ibunya seceoat mungkin. Kontak dini antara ibu dan bayi penting untuk :
- Kehangatan.
- Mempertahankan panas yang benar pada bayi baru lahir.
- Ikatan batin dan pemberian ASI.
 Doronglah ibu untuk menyusui bayinya apabila bayi telah “siap” (dengan menunjukkan refleks rooting). Jangan pakaikan bayi untuk menyusu.
G. Perawatan Mata
Obat mata eritromisin 0,5 % atau tetra siklin 1 % dianjurkan untuk pencegahan penyakit mata karena klamidia (penyakit menular seksual). Obat mata perlu diberikan pada jam pertama setelah persalinan. Yang lazimj dipakai adalah larutan perak nitrat atau Neosporin dan langsung diteteskan pada mata bayi segera setelah bayi lahir.
H. Perawatan Lain-lain
 Lakukan perawatan tali pusat :
- Pertahankan sisa tali pusat dalam keadaan terbuka agar terkena dan tutupi dengan kain bersih secara longgar.
- Jika tali pusat terkena kotoran atau tinja, cuci dengan sabun dan air bersih, dan keringkan betul-betul.
 Dalam waktu 24 jam dan sebelum ibu dan bayi dipulangkan ke rumah, berikan imunisasi BCG, polio oral dan hepatitis B.
 Ajarkan tanda-tanda bahaya bayi pada orang tua dan beritahu orang tua agar merujuk bayi segera untuk perawatan lebih lanjut, jika ditemui tanda-tanda tersebut.
 Ajarkan pada orang tua cara merawat bayi mereka dan perawatan harian untuk bayi baru lahir :
- Beri ASI sesuai dengan kebutuhan 2-3 jam (paling sedikit setiap 4 jam) mulai dari hari pertama.
- Pertahankan agar bayi selalu dengan ibu.
- Jaga bayi dalam keadaan bersih, hangat dan kering, dengan mengganti popok dan selimut sesuai dengan keperluan. Pastikan bayi tidak terlalu panas dan terlalu dingin (dapat menyebabkan dehidrasi).
- Jaga tali pusat dalam keadaan bersih dan kering.

2.3 Konsep Asuhan Kebidanan pada Bayi Baru Lahir
2.3.1 Pengertian
Asuhan kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisir pikiran serta tindakan berdasarkan teori yang ilmiah, penemuan-penemuan, ketrampilan dalam rangkaian tahapan untuk mengambil keputusan yang berfokus pada klien. (Varney, 1997)
Asuhan pada bayi baru lahir adalah asuhan yang diberikan pada bayi baru lahir pada jam pertama setelah kelahiran dilanjutkan sampai 24 jam setelah kelahiran. (PPKC, 2004)
2.3.2 Tujuan
Memberikan asuhan yang adekuat dan terstandar pada bayi baru lahir dengan memperhatikan riwayat bayi selama kehamilan, dalam persalinan dan keadaan bayi segera setelah melahirkan.
2.3.3 Hasil yang Diharapkan
Terlaksananya asuhan pada bayi baru lahir termasuk melakukan pengkajian, membuat diagnosa, mengidentifikasi masalah dan kebutuhan bayi, mengidentifikasi masalah dan diagnosa potensial, tindakan segera serta merencanakan asuhan.
2.3.4 Manajemen Asuhan Kebidanan terdiri dari 7 langkah :
1. Pengumpulan Data
Untuk mengevaluasi keadaan BBL.
a. Data Subyektif
 Biodata terdiri dari :
- Nama : nama klien, ibu dan ayah perlu ditanyakan agar tidak keliru bila ada kesamaan nama dengan klien yang lain.
- Umur : berguna untuk mengantisipasi diagnosa masalah kesehatan dan tindakan yang dilakukan. (Modul Pelatihan Fungsional Bidan di Desa, Depkes RI:10)
- Alamat : dicatat untuk mempermudah hubungan bila keadaan mendesak dan dapat memberi petunjuk keadaan lingkungan tempat tinggal pasien. (Modul Pelatihan Fungsional Bidan di Desa, Depkes RI:10)
- Agama : perlu dicatat karena hal ini sangat berpengaruh didalam kehidupan termasuk kesehatan dan akan mudah dalam mengatasi masalah kesehatan pasien. (Modul Pelatihan Fungsional Bidan di Desa, Depkes RI:10)
- Pekerjaan : jenis pekerjaan dapat menunjukkan tingkat keadaan ekonomi keluarga, juga dapat mempengaruhi kesehatan. (Modul Pelatihan Fungsional Bidan di Desa, Depkes RI:10)
- Pendidikan : tingkat pendidikan sangat besar pengaruhnya di dalam tindakan asuhan kebidanan, selain itu anak akan lebih terjamin pada orang tua pasien (anak) yang tingkat pendidikannya tinggi. (Modul Pelatihan Fungsional Bidan di Desa, Depkes RI:10)
 Keluhan utama : -
 Riwayat kehamilan dan kelahiran
- Prenatal
Jika selama hamil ibu rajin memeriksakan kandungannya, maka kondisi janin atau bayi selama masih dalam kandungan akan terkontrol dengan baik. Ibu yang selama hamil sudah mendapatkan imunisasi TT, maka anaknya bisa terhindar dari penyakit tetanus neonatorum.
- Natal
Jika selama persalinan tidak terjadi komplikasi tidak terdapat cacat bawaan pada bayi, berat badan lebih dari batas minimal dari nilai normal dan umur kehamilan ibu yang cukup bulan maka proses tumbuh kembang bayi dapat maksimal.
b. Data Obyektif
 Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : normal
Kesadaran : normal
Tanda-tanda vital :
- Suhu : normal 360-37,50 C.
Apabila suhu < 360 C merupakan gejala awal hipotermia.
Apabila suhu > 37,50 C merupakan gejala awal hipotermia. (Depkes RI, 75-76)
- Nadi : normalnya 120 x/menit – 140 x/menit. (Depkes RI, 1993)
- Pernafasan : normalnya 40 x/menit.
Apabila < 30 x/menit atau > 60 x/menit, bayi sukat bernafas. (Depkes RI, 1993)
- Berat badan : normalnya 2.500 – 3.000 gram.
Akan terjadi penurunan berat badan secara fisiologis antara 5%-10% karena bayi mengalami empat penyesuaian utama yang dilakukan sebelum dapat memperoleh kemajuan dalam perkembangan. (Suryanah, 1996:18)
- Panjang badan : normal panjang badan waktu lahir sekitar 48-50 cm. (Suryanah, 1996:18)
- Lingkar kepala :
 Circum ferentia accipito bregmatika : 32 cm.
 Circum ferentia fronto accipitalis : 34 cm.
 Circum ferentia mento accipitalis : 35 cm.
(Suryanah, 1996:20)
 Inspeksi
- Kepala dan rambut :
Bersih, pertumbuhan rambut halus dan merata, vernic caseosa, fontanel minor, fontanel mayor.
• Fontanel minor menutup pada minggu ke 6-8.
• Fontanel mayor menutup pada bulan ke 16-18.
(Suryanah, 1996:20)
- Mata
Adakah tanda-tanda infeksi, yaitu Pus.
- Telinga
Periksa dalam hubungan letak dengan mata dan kepala.
- Hidung dan mulut
Bibir dan langitan, periksa adanya sumbing, reflek hisap dinilai dengan mengamati bayi pada saat menyusu.
- Leher
Adakah pembengkakan, benjolan.
- Dada
Bentuk dada, puting susu.
- Bahu, lengan dan tangan
Gerakan bahu, lengan dan tangan, jumlah jari.
- Perut
Bentuk, penonjolan sekitar tali pusat pada saat menangis, perdarahan tali pusat, jumlah pembuluh pada tali pusat.
- Genetalia
Laki-laki : testis berada dalam scrotum, penis berlubang dan lubang ini terletak di ujung penis.
Perempuan : vagina berlubang, uretra berlubang, labia minora dan labia mayora.
- Tungkai dan kaki
Gerakan normal, bentuk, jumlah jari.
- Punggung
Pembengkakan atau ada cekungan, spina bifida.
- Anus
Tidak ada atresia ani.
- Kulit
Vernic caseosa, warna, pembengkakan/bercak-bercak hitam, tanda lahir/tanda mongol. (PPKC, 224)
 Palpasi
- Kepala : apa ada benjolan / tidak.
• Caput succedaneum adalah oedema di bawah kulit kepala pada kelahiran verteks, sebagai akibat pengeluaran cairan serum dari pembuluh darah. Biasanya menghilang 2-5 hari post partum.
• Chepal haematoma adalah perdarahan sub periostal tulang tengkorak berbatas tegas dan tidak elewati sutura. Tulang yang paling sering terkena adalah os temporal atau parietal. Bila tidak terjadi komplikasi lanjut (fraktur dan sebagainya), tanpa pengobatan khusus akan sembuh dalam 2-12 minggu. (Rustam, M, 1998)
- Leher : adakah pembesaran kelenjar limfe/tidak, pembesaran vena jugularis / tidak.
- Dada : adakah massa / tidak.
- Perut : adakah pembesaran hepar/tidak, adakah pembesaran lien/tidak.
- Pelipatan paha : adakah pembesaran kelenjar limfe, adakah tanda hernia inguinalis.
- Ekstremitas atas dan bawah : oedema / tidak.
 Auskultasi
- Dada : apa ada wheezing, apa terdapat ronchi, bunyi jantung bayi normal 120-160 x/menit.
- Perut : bising usus (+).
 Perkusi
Perut : tidak kembung.
 Perkembangan Reflek
- Rooting Reflek (mencari puting) : muncul pada saat lahir, berdurasi sampai usia 6 bulan.
- Grasping Reflek (menggenggam) : muncul pada saat lahir, berdurasi sampai usia 2 bulan.
- Morro Reflek (terkejut) : muncul pada saat lahir, hilang sekitar usia 2 bulan.
- Tonickneck Reflek (tonus leher) : muncul pada saat lahir, hilang sekitar usia 2-3 bulan.
- Sucking Reflek (menghisap) : muncul pada saat lahir, berdurasi sampai usia 6-8 bulan.
- Babynsky Reflek (jari-jari kaki fleksi) : muncul pada saat lahir, hilang sekitar usia 2-3 bulan.
- Stapping Reflek (menapak) : muncul pada saat lahir, menghilang saat usia 2 bulan. (Suryanah, 1996)
2. Identifikasi Masalah / Diagnosa Kebidanan
Dilakukan identifikasi terhadap masalah atau diagnosa kebidanan berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Diagnosa, masalah dan kebutuhan bayi baru lahir tergantung dari hasil pengkajian terhadap bayi.
Contoh diagnosa :
a. Bayi baru lahir fisiologis umur 2 jam dalam masa transisi.
b. Bayi baru lahir fisiologis dengan asfiksia.
c. Bayi baru lahir fisiologis dengan hipotermia / hipertermi.
d. Bayi kurang bulan, kecil masa kehamilan dengan hipotermi dan gangguan pernafasan.
Masalah :
a. Ibu kurang informasi.
b. Ibu tidak periksa ANC.
c. Ibu post sectio cesaria.
d. Gangguan maternal yang lain.
Kebutuhan :
a. Jagalah agar bayi tetap kering dan hangat.
b. Usahakan adanya kontak antara kulit bayi dengan kulit ibunya sesegera mungkin. (PPKC, 2004)
3. Antisipasi Masalah Potensial / Diagnosa Potensial
Mengidentifikasi diagnosa / masalah potensial yang mungkin akan terjadi berdasarkan masalah atau diagnosa yang sudah diidentifikasi.
Contoh : diagnosa potensial :
a. Hipotermi potensial menyebabkan gangguan pernafasan. (PPKC, 2004)
4. Identifikasi Kebutuhan Segera
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter sesuai dengan kondisi bayi.
Contoh tindakan segera :
a. Jagalah agar bayi tetap kering dan hangat.
b. Usahakan adanya kontak antara kulit bayi dengan kulit ibunya sesegera mungkin.
c. Bila bayi baru lahir tidak bernafas dalam waktu 30 detik, segera cari bantuan dan mulailah lagkah-langkah resusitasi pada bayi. (PPKC, 2004)
5. Rencana Asuhan Bayi Baru Lahir
Merencanakan asuhan menyeluruh yang rasional sesuai dengan temuan dari langkah-langkah sebelumnya.
- Perencanaan dengan diagnosa :
Bayi baru lahir umur 25 menit (masa transisi).
- Tujuan :
Setelah dilakukan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir diharapkan tidak terjadi komplikasi.
- Kriteria :
 Bayi bernafas secara teratur.
 Suhu tubuh 36,50 – 37,50 C.
 Akral hangat.
 Bayi bergerak aktif.
- Intervensi :
1. Pertahankan suhu tubuh bayi.
Rasional : Dengan mempertahankan suhu tubuh, bayi kehilangan panas tubuh melalui evaporasi, konduksi, konveksi dan radiasi serta membatasi stres akibat perpindahan lingkungan.
2. Memberi obat tetes mata.
Rasional : Untuk mencegah terjadinya gangguan pada mata / infeksi karena terkena kotoran waktu bayi melewati jalan lahir.
3. Lakukan kontak awal dengan ibu dan pemberian ASI.
Rasional : Dengan kontak awal pada bayi didekatkan pada ibu dapat mempercepat ikatan batin antara ibu dan bayi serta pemberian ASI awal bermanfaat meningkatkan kekebalan tubuh bayi, karena colostrum mengandung IgA dalam jumlah tinggi.
4. Observasi tanda-tanda vital : nadi, suhu, RR dan tanda infeksi.
Rasional : Deteksi dini adanya kelainan / infeksi, sehingga dapat segera ditangani.
5. Lakukan perawatan tali pusat.
Rasional : Untuk mempertahankan personal hygiene dan mencegah terjadinya infeksi.
6. Berikan tanda pengenal pada bayi.
Rasional : Untuk mencegah tertukarnya bayi bila dipisahkan dari ibunya.
7. Rawat gabung (rooming in) ibu dan bayi.
Rasional : Lebih mendekatkan bayi dengan ibunya baik secara fisik maupun psikologis.
6. Melakukan Perencanaan
Adalah pelaksanaan rencana asuhan menyeluruh seperti pada langkah ke lima. Langkah ini dapat dilakukan oleh seluruh bidan atau sebagian oleh wanita tersebut jika belum ditugaskan oleh orang lain, tetapi bidan memikul tanggung jawab tentang arah pelaksanaan.
7. Evaluasi
Langkah ini sebagai pengecekan apakah rencana asuhan tersebut efektif jika memang efektif dalam pelaksanaannya.
Di dalam pendokumentasian / catatan asuhan dapat diterapkan dalam bentuk SOAP.



































BAB 3
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN
Pada Bayi Ny “ S “ Neonatus Aterm Usia 1 hariFisiologis di Rs. Dr Soewandi Surabaya

Pengkajian tanggal : 5 Februari 2008
Pukul : 19.00 WIB
I. Data Subyektif
1. Identitas / Biodata
Nama bayi : By Ny “ S“
Umur bayi : 1 hari
Tanggal / jam / lahir : 4 Februari 2008 /17.20 WIB
Jenis kelamin : (perempuan )
No. status reg :
Berat badan lahir : 3150 gr
Panjang badan : 52 cm
Nama ayah : Tn “ M “ Nama Ibu : Ny “S”
Umur : 26 th Umur : 20th
Suku / bangsa : Jawa / Indonesia Suku / bangsa : Jawa / Indonesia
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan : swasta Pekerjaan : -
Alamat Rumah : Donorejo Alamat Rumah : Donorejo
Telp : - Telp : -
2. Riwayat Kehamilan Sekarang
1. Riwayat penyakit kehamilan
a. Pendarahan : tidak ada
b. Pre eklamsi / eklamsi : tidak ada
c. Penyakit kelamin : tidak ada
d. Lain – lain : tidak ada
2. Kebiasaan waktu hamil
a. Makanan : makan 3x/ hari porsi sedang ( nasi, sayur, lauk )
b. Obat – obatan / jamu : ibu tidak mempunyai kebiasaan minum jamu dan obat – obatan
c. Merokok : ibu tidak mempunyai kebiasaan merokok
d. Lain – lain : tidak ada
3. Riwayat Persalinan Sekarang (Diambil Dari Dokumen Status Pasien)
1. Anak Ke : IV
2. Jenis Kelamin : Spt B
3. Ditolong Oleh : Bidan
4. Lama Persalinan : 12 Jam
5. Ketuban Pecah : Spt Jernih
6. Komplikasi Persalinan :
Ibu : Tidak
Bayi : Tidak
7.Keadaan Bayi Baru Lahir :
Waktu Tanda O 1 2 Jumlah
Nilai
Menit
Ke-1 Frekuensi jantung
Usaha pernafasan
Tonus otot
Reflek
Warna ( ) tak ada
( ) tak ada
( ) lumpuh
( ) tak bereaksi
( ) biru pucat (  ) < 100
(  ) lambat tak teratur
( ) ext flexi sedikit
( ) tubuhn kemerahan tangan & kaki ( ) > 100
( ) menangis kuat
(  ) gerakan aktif
(  ) menangis
(  ) kemerahan 8
Menit ke – 5 Frekuensi jantung
Usaha pernafasan
Tonus otot
Reflek
Warna ( ) tak ada
( ) tak ada
( ) lumpuh
( ) tak bereaksi
( ) biru pucat (  ) < 100
( ) lambat tak teratur
( ) ext flexi sedikit
( ) tubuhn kemerahan tangan & kaki ( ) > 100
(  ) menangis kuat
(  ) gerakan aktif
(  ) menangis
(  ) kemerahan 9

7. Resusitasi
Pengisapan lendir : dilakukan
Rangsangan takhl : dilakukan
Ambubay : tidak , lamanya menit
Massage jantung : tidak , lamanya menit
Inkubasi endotraceal : tidak , lamanya menit
Oksigen : tidak , lamanya menit
Therapi : tidak
Keterangan lain : tidak

4. Kebutuhan Dasar Nutrisi dan Cairan
a. Pola nutrisi : minum pasi 1cc / obt
b. Pola eliminasi : BAB  2x BAK  Sering
c. Pola aktivitas : Bayi menangis saat BAB/ BAK
d. Pola istirahat : Bayi lebih banyak tidur

II. Data Obyektif
Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan Umum
1) Tonus otot : bayi bergerak lembah
2) Kulit : warna kulit merah muda, kulit elastis, tidak ada rambut lanugo, tidak ada nevil spot
3) Tangisan bayi : bayi menangis kuat
4) Tanda – tanda vital :
S : 364
HR : 124x / menit
RR : 64x / menit
2. Pemeriksaan Fisik Head to Me
1) Kepala : tidak ada hidrocepalus, tidak ada caput suksedanum,tidak ada chepal hematom, sutura saling bertindih,
2) Telinga : simetris, tidak ada serumen
3) Mata : simetris, conjunctiva merah muda, sclera putih pupil bereaksi terhadap cahaya, pupil sama besar
4) Hidung & mulut : bersih , tidak ada pch, tidak ada scret
Mulut : warna bibir merah muda, gerakan simetris, gusi berwarna merah muda, tidak ada labio palato genato schizis, tidak adsa oral trush
5) Leher :
Tampak pendek dan lurus, tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, tidak ada pembendungan vena jugularis.
6) Dada :
Bentuk silinders, mengembang kempis bersamaan dengan respirasi, tidak ada reaksi dada, tidak ada nonky, tidak ada whezing, putting menonjol, teraba jaringan mamae.lingkar dada =32 cm
7) Bahu, lengan dan tangan :
Bahu : simetris, tidak ada fakhur klavikula, tidak ada fakhur humerus
Lengan : simetris, pada sudut 30
Tangan : simetris, tidak polidatili, tidak shindaktili
8) Perut :
Silindriss : tidak kembung, tidak ada pendarahan tali pusat
9) Punggung :
Tampak lurus, tidak lordosis, tidak kifosis, tidak scoliosis, tidak ada spina bifida, tidak terdapat rambut lanugo
10) Alat benitalia :
Bersih, labia mayora menutupi laba minora, clitoris menonjol
11) Anus : tidak ada atresiani
12) Tungkai dan kaki :
Bentuk dan gerakan simetris, kedua tungkaimudah didefleksikan, jumlah jari kaki 10 buah
13) Sistem saraf dan refleks
Reflek morrow : +
Menghisap : +
Babinsky : +
Tonick neck : +
Graps : +

3. Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan
III. Analisa, Diagnosa, Masalah
Analisa, diagnosa / masalah Data subyektif Data obyektif
DX : Bayi Baru Lahir
Usia 1 hari fisiologis
Masalah : Termogulasi - Bayi baru lahir spontan
Belakang kepala
- Ditolong bidan
- Keadaan baik
- Bayi lahir prematur - KU bayi baik
- A-S = 8-9
- 
- BB/PB. 3150/51cm
- cacat / anus 
S : 364
HR : 124x / menit
RR : 64x / menit

IV. Diagnosa Potensial
Tidak ada
V. Identifikasi Kebutuhan Tindakan Segera
Tidak ada
VI. Intervensi/Planning
Tujuan : setelah dilakukan asuhan kebidanan selama 30 menit diharapkan masalah teratasi
Keriteria hasil :
1. k/u bayi baik
2. S = 36 5 – 375OC HR=120-140X/menit RR= 40-60X/menit
3. tidak ada tanda gawat nafas
intervensi
tanggal :5 Februari 2008 jam19.30 WIB
1. Jelaskan pada ibu tentang pemeriksaan bayi
R/ Penjelasan sebagai alih informasi tentang kondisi bayinya
2. Lakukan observasi ttv hr , suhu, rr
R/ Deteksi dini adanya komplikasi pad bayi dan melakukan tindakan secara tepat
3. Rawat bayi apada suhu yang hangat ( inkubator )
R/ Perawatan dalam inkubator dapat mencegah terjadinya hipotermi
4. Berikan kebutuhan cairan sesuai dengan usia dan berat badan
R/ Pemenuhan kebutuhan dan cairan mencegah terjadinya dehidrasi dan kebutuhan nutrisi dan cairan tetap terpenuhi
5. Berikan asuhan sayang bayi dengan pemenuhan personal hygine
R/ Lingkungan yang lembab dan kotor merupakan media berkembang biaknya mumoorganisme penyebab infeksi
6. berikan informasi tentang ASI Eklkusif
R/ ASI Eklusif sangat penting untuk bayi yang merupakan makanan utama bagi bayi karena banyak mengandung zat gizi tinggi yang sesuai kebutuhan bayi

VII. Implementasi
Tanggal Jam Implementasi
5 Februari 2008 19.35

19.40

19.45
20.00



20.05
.2010

20.15 1. Menjelaskan hasil pemeriksaan pada ibu tentang kondisi bayinya saat ini baik dan dalam pengawasan
2. Memberikan lingkungan yang bersih dan hangat pada tubuh bayi untuk mencegah hipotermi
3. Memberikan pasi 1cc / OGT
4. Melakukan observasi TTV
S= 36 8 OC
HR= 144 x/ menit
RR= 60 x/ menit
5. Memberikan infeksi ampicilin 60 mg/ lm
6. Membersihkan tubuh bayi dan BAB / BAK pengganti popok dan baju
7. Menjelaskan tentang ASI eklusif

VIII. Evaluasi
Tanggal 6 Februari 2008 Jam 08.00WIB
S = - ibu merasa lega dengan penjelasan petugas
- ibu mengatakan bayinya masih lemah
O = K/U bayi baik
Gerakan cukup, nafas spontan tanpa bantuan O2, tidak ada reaksi dada tidak iyanosis,
Bayi minum pasi 1cc
Injeksi ampicilin 60mg
TTV S= 36 6 oC HR= 144x / menit RR = 60x / menit
A = bayi baru lahir usia 1 hari fisilogis
P = - observasi TTV
- berikan minum ASI
- px pulang



























BAB IV
PENUTUP

4.1 Simpulan
Bayi baru lahir disebut juga neonatal yang merupakan periode paling krisis. Pencegahan asfiksia, mempertahankan suhu tubuh bayi terutama pada bayi baru lahir dengan berat badan rendah.
Setelah dilakukan asuhan kebidanan pada bayi NY “S” dengan diagnosa “Bayi baru lahir usia 1 hari fisilogis” dengan tujuan yang ada maka didapat kesimpulan :
1. Pengkajian
Didapat dari hasil pemeriksaan petugas kesehatan, hal ini untuk menentukan suatu tindakan
2. Diagnosa masalah
Setelah dilakukan asuhan petugas menemukan diagnosa “Bayi baru lahir usia 1 hari fisiologis.
3. Rencana
- Berikan penyuluhan pada ibu tentang perawatan bayi di rumah.
- Berikan penyuluhan tentang perawatan tali pusat.
- Berikan penyuluhan tentang pemberian ASI eksklusif pada bayi.
- Berikan penyuluhan tentang jadwal imunisasi.
- Anjurkan ibu untuk kontrol 1 minggu lagi.
4. Implementasi
- Memberikan penyuluhan pada ibu tentang perawatan bayi di rumah.
- Memberikan penyuluhan pada ibu tentang perawatan tali pusat.
- Memberikan penyuluhan pada ibu tentang pemberian ASI eksklusif pada bayi.
- Memberikan penyuluhan tentang jadwal imunisasi.
- Menganjurkan ibu untuk kontrol 1 minggu lagi.
5. Evaluasi
Pada asuhan kebidanan di atas pada bayi baru lahir masa transisi 2 jam komplikasi dan infeksi tidak terjadi.

4.2 Saran
4.2.1 Bagi Petugas Kesehatan
a. Menjaga terjadinya kedinginan, infeksi, asfiksia pada bayi seminimal mungkin.
b. Merawat tali pusat dengan bersih dan benar, yaitu dengan alkohol 70 % dan kasa steril.
c. Mencegah personal hygiene.
4.2.2 Bagi Keluarga Klien
a. Anjurkan kepada orang tua atau keluarga mencuci tangan terlebih dahulu sebelum dan sesudah merawat bayi.
b. Kontrol bila asda keluhan.
c. Anjurkan kepada ibu agar bayi diimunisasi lengkap pada ASI eksklusif sampai 6 bulan.



DAFTAR PUSTAKA

YBO-SP. 2001, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Jakarta : EGC.

Suryanah. 1996, Keperawatan Anak Sakit untuk SPK, Jakarta : EGC.

Soetjiningsih. 1998, Tumbuh Kembang Anak, Jakarta : EGC.

Mochtar, R. 1998, Sinopsis Obstetri Jilid I, Jakarta : EGC.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar